Mengintip Tradisi Bulan Suro (Tahun Baru Islam) di Pulau Jawa

Artikel 2018 Highlight Bareng Sru Bareng

Memasuki Tahun Baru Islam 2018 atau biasa masyarakan jawa menyebut dengan Bulan Suro banyak sekali masyarakat jawa pada umumnya memiliki tradisi. Tradisi yang terjadi di setiap daerah berbeda beda di dalam merayakan bulan suro ini. Tradisi ini telah berlangsung bertahun tahun lamanya, sehingga menjadi sebuah budaya untuk kota tersebut. Yuk, kita intip beberapa tradisi yang ada di pulau jawa ketika bulan suro.

1. Tradisi Grebeg Suro di Ponorogo

Grebeg Suro merupakan tradisi yang sudah ratusan tahun ada di Ponorogo dan terus dilestarikan. Hanya saja, sejak dua hingga tiga dawarasa terakhir dikemas dengan kegiatan yang lebih terarah. Berbagai ameran dan lomba digelar. Mulai dari pameran berbagai produk seperti pameran bonsai, pameran produk UMKM, berbagai lomba.

Grebeg Suro akan dipuncaki dengan Kirab Pusaka dari Kota Lama menuju Kutho Tengah atau pendopo serta tumpeng purakĀ  dan Larung Risalah di Telaga Ngebel. Totalnya, kegiatan Grebeg Suro ini akan berlangsung biasaya selama 11 hari. Kegiatan ini menjadikan Reyog Ponorogo semakin dikenal di kancah nasional bahkan internasional. Bahkan kita harus bersiap-siap untuk tampil di depan para pengamat budaya dan petinggi UNESCO di Paris untuk pengakuan Reyog Ponorogo sebagai peninggalan budaya tak benda.

2. Kirab Kebo Bule dan Pusaka di Surakarta

Kegiatan ini selalu dilakukan oleh pihak kota Surakarta. Banyak sekali kisah yang beredar di masyarakat mengenai kebo bule (Kiai Slamet), yang paling fenomenal adalah sebagian masyarakat percata hewan tersebut membawa berkah dan keselamatan dari Sang Kuasa. Saat memperingati datangnya 1 Suro, warga selalu mencoba menyentuh hingga mengambil air jamasan. Bahkan, ada yang percaya kotoran sang kebo juga memiliki khasiat. Kebo bule Kiai Slamet mempunyai sejarah panjang. Nama Kiai Slamet tersebut sebetulnya adalah salah satu pusaka berupa tombak milik keraton.

Dahulu pada zaman Pakubuwono X, sekitar 1893-1939, kesunanan melakukan tradisi membawa pusaka Kiai Slamet keliling tembok Baluwarti pada Selasa dan Jumat Kliwon. Tradisi dari Pakubowono X tersebut terus dilanjutkan oleh kerabat keraton dan sang kebo selalu mengikuti pusaka Kiai Slamet tersebut sampai sekarang. Rute kirab biasanya dari Kori Kamendungan menuju Kawasan Sapit Urang depan keraton lalu menuju Jalan Sudirman. Setelah itu, ke Timur melewati Jalan Mayor Kusmanto dan melewati Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, lalu Jalan Slamet Riyadi, hingga bunderan Gladag dan kembali lagi menuju keraton.

3. Tradisi Sapi-Sapian di Banyuwangi

Tradisi ini telah ada sejak tahun 1700-an, menurut cerita terjadi ketika 3 orang asal bugis membuka lahan untuk permukiman dan pertanian. Pada saat itu mereka tidak memiliki alat untuk menarik bajak, sehingga mereka memutuskan menggunakan tenaga sendiri. Karena kelelahan, mereka lalu mencari binatang untuk membantu membajak sawah dan menemukan sapi liar yang kemudian membantu ketiga orang tersebut untuk mengolah lahan pertanian. Untuk menghargai leluhur yang mereka sebut Mbah Daeng, masyarakat menggelar tradisi sapi-sapian setiap 1 Suro selain itu juga sebagai kegiatan bersih desa. Nama Kenjo diambil dari nama Kunjo yang dalam bahasa Using berarti tempat air. Saat ini hampir sebagian besar masyarakat Desa Kenjo berprofesi sebagai petani.

4. Tradisi Kirab Kepala Kerbau di Boyolali

Tak kalah dengan kota lain yang mempunyai tradisi ketika suro datang. Di Boyolali sendiri setiap malam 1 suro warga lenjoh selo melarung satu kepala kerbau untuk memohon keselamatan kepada sang kuasa dan diberkahi hidup di lereng Gunung Merapi. Menjelang dini hari pukul 00.00, warga biasanya mulai berjajar dan melakukan kirab tersebut denga membawa kepala kerbau ke puncak gunung merapi. Dimana jarak sekitar 4 kilometer dengan berjalan kaki. Kepala kerbau ditutupi kain putih sebagai simbol rasa hormat.

Nah, itu di bebeerapa kota yang terkenal. Bagaimana di kota kamu. Jangan lupa like, share dan tinggalkan komentar positif pada artikel ini ya.
Share Artikel Ini
0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *